JAKARTA - Kenaikan tarif bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi berpotensi menjadi stimulus positif terhadap penjualan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia sepanjang sisa tahun 2026. Sebagaimana diketahui, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubsidi terhitung Rabu (10/6/2026).
Harga Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Kenaikan serupa juga terjadi di SPBU swasta seperti BP-AKR. Harga BP 92 naik menjadi Rp 16.670 per liter dari semula Rp 12.390 per liter, dan BP Ultimate menjadi Rp 17.240 per liter dari Rp 12.930 per liter.
Vice Chairman Market Development Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D Sugiarto berharap kenaikan harga BBM tidak menekan penjualan kendaraan berbahan bakar konvensional (ICE).
“Mudah-mudahan penjualan ICE tidak turun, tetapi penjualan BEV-nya naik. Pembangunan infrastruktur charging station harus terus ditingkatkan,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).
Dari sisi pelaku industri, Head of Marketing Jaecoo Indonesia, Mohamad Ilham Pratama menilai lonjakan harga BBM dapat memicu minat masyarakat terhadap kendaraan listrik karena biaya operasionalnya lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional.
Menurutnya, kendaraan listrik saat ini menjadi alternatif yang semakin relevan bagi konsumen yang mengedepankan efisiensi serta teknologi terkini.
“Produk New Energy Vehicle (NEV) Jaecoo, baik kendaraan listrik murni maupun plug-in hybrid (PHEV), menawarkan efisiensi sekaligus performa optimal. Konsumen bahkan dapat menghemat lebih dari Rp 1 juta per bulan dibandingkan mobil ICE,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Ia merinci, dengan asumsi jarak tempuh 1.500 kilometer per bulan, biaya operasional Jaecoo J5 EV sekitar Rp 290.760 per bulan, atau berpotensi menghemat hingga Rp 2,14 juta.
Sementara itu, biaya operasional Jaecoo J7 SHS-P sekitar Rp 543.243 per bulan dengan potensi penghematan Rp 1,89 juta. Adapun Jaecoo J8 SHS-P ARDIS memerlukan biaya sekitar Rp 668.076 per bulan dan mampu menghemat hingga Rp 1,77 juta.
Di tengah tren elektrifikasi, kinerja penjualan Jaecoo pun positif. Secara retail sales, penjualan Jaecoo mencapai 2.031 unit pada Januari 2026, naik menjadi 3.028 unit pada Februari, 2.868 unit pada Maret, 3.009 unit pada April, dan sekitar 3.000 unit pada Mei 2026.
Ilham mengeklaim, Jaecoo J5 EV merupakan salah satu mobil listrik terlaris di Indonesia berdasarkan data Gaikindo periode Januari–Mei 2026. Pada Mei 2026, Jaecoo juga menembus lima besar merek kendaraan terlaris nasional.
Walau demikian, ia menekankan bahwa pertumbuhan EV tidak semata karena kenaikan harga BBM. Pemahaman akan kebutuhan konsumen tetap menjadi faktor utama.
“Jaecoo mengedepankan pendekatan customer centric dengan menghadirkan kendaraan sesuai kebutuhan konsumen,” katanya. Dari sisi ekosistem, Jaecoo memperkuat dukungan infrastruktur dengan menyediakan fasilitas pengisian daya di seluruh jaringan diler mereka.
Sementara itu, Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) Fransiscus Soerjopranoto menilai prospek kendaraan listrik hingga akhir tahun ini masih cukup positif.
Menurutnya, semakin banyak konsumen memperhitungkan efisiensi biaya operasional, teknologi, kenyamanan, serta dukungan ekosistem dalam memilih kendaraan.
“Penyesuaian harga BBM dapat menjadi salah satu faktor yang membuat konsumen semakin memperhitungkan biaya kepemilikan dan melihat EV sebagai pilihan mobilitas yang relevan,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).
Namun demikian, keputusan pembelian kendaraan tidak sekadar ditentukan oleh harga BBM. Faktor lain seperti kebutuhan mobilitas, harga kendaraan, value for money, kemudahan pengisian daya, layanan purna jual, hingga kepercayaan terhadap teknologi juga berperan krusial.
Fransiscus menambahkan, Hyundai terus memacu pertumbuhan EV melalui lini produk seperti Hyundai IONIQ 5, Hyundai IONIQ 6, dan Hyundai Kona Electric, serta memperkuat ekosistem melalui layanan pengisian daya, aplikasi, hingga pengembangan produksi lokal dan rantai pasok baterai.
Ia menegaskan, percepatan adopsi kendaraan listrik masih akan dipengaruhi daya beli masyarakat, regulasi pemerintah, kesiapan infrastruktur, serta edukasi konsumen.
“Kolaborasi lintas pihak penting untuk membangun ekosistem EV yang lebih siap, merata, dan memberikan rasa percaya diri bagi konsumen,” tutupnya.