Pertamax Naik, 10 Persen Pengguna Diprediksi Pindah ke Pertalite

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:05:01 WIB
Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter [FOTO : NET].

JAKARTA - Kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter diproyeksikan bakal memicu sebagian pelanggan untuk bermigrasi ke Pertalite yang banderolnya tetap di angka Rp10.000 per liter.

 Pengamat energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, mengalkulasi ada sekitar 10 persen pengguna Pertamax yang akan bergeser mengonsumsi Pertalite imbas dari lonjakan harga tersebut.

"Belajar dari pengalaman April 2022, ketika Pertamax naik 39 persen dan sekitar satu dari delapan orang pembeli pindah ke Pertalite, kami perkirakan penjualan Pertamax turun sekitar 10 persen," ujar Yayan seperti dikutip dari Antara, Minggu (14/6/2026).

Menurut analisis Yayan, kenaikan harga Pertamax ini tidak otomatis memangkas intensitas mobilitas atau perjalanan masyarakat. 

Fenomena yang terjadi justru memperlihatkan kecenderungan konsumen untuk memburu jenis BBM yang bernilai lebih ekonomis.

"Ketika harga Pertamax naik, orang-orang tidak mengurangi intensitas bepergian, tetapi berpindah ke BBM Pertalite yang lebih murah," kata dia.

Dengan posisi harga Pertamax yang menyentuh Rp16.250 per liter, maka gap atau selisih harga dengan Pertalite kini menjadi sebesar Rp6.250 per liter.

 Yayan menilai renggangnya jarak harga ini merupakan yang paling lebar sepanjang sejarah penyesuaian tarif BBM. Kendati demikian, ia memandang pasokan kuota Pertalite yang ada sekarang masih sanggup menampung perpindahan konsumen dari segmen Pertamax.

"Tetapi kuota Pertalite masih cukup untuk menampung perpindahan ini. Hanya sekitar sepertiga dari sisa kuota yang akan terpakai," ujarnya.

Beban Tambahan Pengguna Pertamax

Yayan menguraikan bahwa dampak finansial dari kenaikan harga Pertamax bakal bervariasi pada tiap-tiap lapisan masyarakat.

 Para pemilik mobil dengan rata-rata konsumsi mencapai 100 liter Pertamax per bulan diestimasikan wajib mengalokasikan dana ekstra sekitar Rp395.000 per bulan. Sementara itu, untuk para pengendara roda dua dengan tingkat konsumsi harian sekitar 30 liter per bulan harus rela menambah anggaran belanja BBM berkisar Rp119.000 per bulan.

Apabila ditinjau dari instrumen tingkat kesejahteraan masyarakat atau desil yang dirilis pemerintah, rumah tangga yang masuk dalam Desil 1 atau kelompok paling miskin dinilai tidak terlalu merasakan dampak langsung lantaran hampir seluruhnya tidak mengonsumsi Pertamax.

 Sebaliknya, kelompok masyarakat ekonomi kelas menengah yang berada di kategori Desil 5 hingga Desil 7 diperkirakan menjadi segmen yang paling masif bergeser ke Pertalite demi menyiasati pengeluaran bulanan.

Adapun kelompok rumah tangga menengah ke atas pada kluster Desil 8 dan Desil 9, yang didominasi oleh pengguna kendaraan roda empat reguler, dipastikan harus menghadapi pembengkakan pengeluaran untuk biaya transportasi harian. 

Sementara itu, kelompok rumah tangga paling mapan atau Desil 10 diproyeksikan menanggung porsi beban finansial yang paling tinggi akibat kenaikan harga Pertamax ini. Kondisi tersebut dipicu oleh aturan yang melarang kendaraan operasional milik korporasi, area perkebunan, serta sektor pertambangan untuk mengonsumsi BBM bersubsidi.

"Singkatnya, sekitar separuh dari total beban kenaikan ini ditanggung oleh 20 persen rumah tangga terkaya. Kenaikan Pertamax bekerja seperti pajak yang lebih banyak menyasar orang mampu," tutur Yayan.

Pertamina Pastikan Pertalite Tidak Langka

Merespons proyeksi adanya perpindahan massal konsumen dari produk Pertamax ke Pertalite, PT Pertamina Patra Niaga memberikan garansi bahwa stok Pertalite dipastikan aman dan tidak akan memicu kelangkaan di pasar.

 Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, memaparkan bahwa proses suplai dan distribusi Pertalite di seluruh jaringan SPBU berjalan dengan normal sesuai dengan koridor penugasan dari pihak pemerintah.

"Kami mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan energi dengan membeli BBM sesuai kebutuhan dan sesuai dengan peruntukannya serta sesuai dengan jenis kendaraan yang digunakan," ujar Roberth.

Berdasarkan keterangan resmi dari Pertamina, ketersediaan pasokan produk Pertalite bakal terus dipantau dan dijaga secara ketat guna menyuplai kebutuhan masyarakat yang memang mengantongi hak untuk mengonsumsi produk BBM bersubsidi di seluruh penjuru Indonesia.

Terkini