Daya Beli Lesu, OJK Nilai Layanan Paylater Potensi Diserbu Warga

Senin, 15 Juni 2026 | 02:07:22 WIB
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) [FOTO ; NET].

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang bahwa tekanan pada daya beli masyarakat berpeluang memicu lonjakan pemanfaatan fasilitas beli sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) pada sektor industri pembiayaan atau multifinance.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman memaparkan, situasi tersebut terjadi lantaran skema BNPL dinilai sebagai opsi pembiayaan jangka pendek yang sifatnya fleksibel.

“Sehingga dapat mendukung pertumbuhan pembiayaan digital di tengah kebutuhan masyarakat, khususnya dari segmen pengguna yang aktif memanfaatkan layanan keuangan digital,” katanya dalam lembar jawaban RDK OJK Mei 2026, dikutip pada Senin (15/6/2026).

Walakin, Agusman tetap memberikan peringatan agar para pelaku usaha BNPL multifinance senantiasa memerhatikan sekaligus memperkokoh aspek perlindungan konsumen. 

Ada pun untuk data pembiayaan BNPL di perusahaan multifinance per April 2026 mencatatkan pertumbuhan di angka 56,92 persen secara tahunan (year on year/YoY) hingga menyentuh level Rp12,93 triliun. Di sisi lain, NPF gross sanggup dipertahankan pada posisi 2,99 persen.

Sebelumnya, Agusman pun sempat memproyeksikan bahwa penyaluran dana pembiayaan BNPL bakal konsisten menorehkan pertumbuhan yang positif sepanjang tahun 2026. 

Tren kenaikan ini disokong oleh ekspansi ekosistem digital beriringan dengan merangkak naik keperluaan pembiayaan yang bersifat elastis.

“Khususnya dari segmen usia produktif dan masyarakat yang belum mendapatkan akses layanan keuangan formal,” ucap Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman dalam lembar jawaban RDK OJK Maret 2026, Rabu (8/4/2026).

Kendati demikian, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi berpendapat bahwa rupa risiko yang wajib diwaspadai mencakup potensi pembengkakan angka gagal bayar (over leverage konsumen), tindak fraud, serta mutu proses underwriting.

Langkah mitigasi yang dapat diterapkan merangkum penguatan sistem credit scoring dengan bersandar pada data alternatif, penerapan batas limit yang adaptif, pengawasan terhadap perilaku pembayaran, hingga program edukasi konsumen. Sinergi bersama regulator dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) juga dinilai krusial.

Menurut analisis Heru, ceruk pasar BNPL saat ini didominasi oleh kelompok generasi muda, pekerja pemula (first-jobber), serta kategori unbanked/underbanked

Hal itu didorong oleh ketertarikan mereka atas keluwesan sistem pembayaran, kepraktisan akses, serta tidak adanya keharusan memiliki kartu kredit. Lewat keunggulan tersebut, BNPL bertindak selaku jalan keluar atas kebutuhan likuiditas jangka pendek.

“Sebab itu, menurut saya, BNPL masih akan tumbuh kuat, tetapi lebih moderat. Namun, agaknya fokus akan bergeser ke kualitas portofolio, profitabilitas, dan pengelolaan risiko yang lebih prudent. Regulasi juga akan semakin memperkuat stabilitas industri,” tegasnya.

Terkini