Prabowo Targetkan Setop Impor Solar Lewat Peluncuran B50 Juli 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:29:31 WIB
Prabowo: B50 Rilis Juli 2026, Indonesia Menuju Swasembada Energi [FOTO: NET].

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwasanya program bahan bakar biodiesel B50 bakal resmi dirilis pada Juli 2026. Melalui instrumen kebijakan tersebut, jajaran otoritas membidik misi penciutan hingga penyetopan aktivitas impor solar sebagai bagian dari langkah taktis merealisasikan kemandirian energi nasional.

Pemaparan tersebut disampaikan oleh Prabowo kala memberikan pidato arahan dalam agenda Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

"Kita percaya diri. Kita akan mampu mengatasi, Saudara-saudara sekalian. Dan kita akan menuju swasembada BBM. Swasembada energi, Saudara-saudara sekalian," kata Prabowo dalam sambutannya yang disiarkan daring, Rabu.

"Bulan Juli ini, berapa hari lagi, kita akan launching B50. B50 solar akan kita olah dari kelapa sawit 50 persen. Dengan demikian, kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri, Saudara-saudara sekalian. Dan kita akan menghemat banyak sekali," tambahnya.

Produk B50 sendiri berstatus sebagai bahan bakar minyak jenis solar yang memuat ramuan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak kelapa sawit. 

Lewat eskalasi volume campuran biodiesel tersebut, pihak eksekutif memproyeksikan pasokan kebutuhan solar di tanah air sanggup terakomodasi sepenuhnya dari basis energi domestik.

"Kita tidak akan impor dari luar negeri. Maksimal 4 tahun lagi untuk kebutuhan BBM kita," kata dia.

Pada kesempatan terpisah sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengutarakan bahwa serangkaian tahapan riset pengujian teknis untuk formula B50 telah dijalankan pada bermacam-macam sektor angkutan transportasi sekaligus lini industri.

Proses uji coba komprehensif tersebut menyasar armada kendaraan bermotor, moda kereta api, kapal laut, hingga perangkat alat dan mesin sektor agraris. Bersandarkan hasil peninjauan sementara, pemanfaatan formula B50 memperlihatkan performa yang positif serta dinyatakan siap melangkah ke fase implementasi yang berskala lebih masif.

Merujuk penjelasan Bahlil, realisasi program B50 menjadi pijakan lanjutan bagi jajaran eksekutif pascapemberlakuan biodiesel jenis B35 dan B40. 

Selain mengoptimalkan penyerapan energi berbasis komoditas kelapa sawit, regulasi ini juga diproyeksikan demi menekan ketergantungan impor BBM yang sejauh ini dinilai masih membebani struktur neraca perdagangan nasional.

"Dengan demikian, maka kita akan mengurangi atau bahkan tidak lagi melakukan impor solar, khususnya C48," ujar Bahlil.

Pemberlakuan formula B50 juga diproyeksikan mampu mendongkrak tingkat penyerapan hasil produksi biodiesel di dalam negeri sekaligus memperkokoh kedaulatan energi nasional. 

Apabila target dari jajaran otoritas sukses tercapai, Indonesia bakal kian bertumpu pada ketersediaan energi berbasis bahan baku lokal demi menyuplai kebutuhan di sektor transportasi maupun industri.

Terkini