Waspada Batuk Kronik Berulang pada Anak akibat Polusi Udara

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:32:32 WIB
Polusi Tinggi Picu Batuk Kronik Berulang pada Anak [FOTO: NET].

JAKARTA - Penurunan kualitas udara akhir-akhir ini menjadi kekhawatiran utama bagi para orangtua. Kondisi lingkungan yang dipenuhi polutan membuat anak-anak usia balita menjadi kelompok yang paling rentan mengalami masalah pada sistem pernapasan. 

Di tengah situasi udara yang tidak menentu, keluhan batuk dan napas berbunyi pada anak seolah menjadi pemandangan harian.

Orangtua menjadi harus lebih jeli dalam membedakan mana batuk selesma yang wajar dan keluhan persisten yang membutuhkan intervensi medis secara serius.

 "Masalah dengan kualitas udara yang buruk ini, kita mungkin harus membatasi aktivitas di luar," kata Ketua UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati, Sp.A., Subsp. Respi(K) dalam acara peluncuran Omron Nebulizer NE-U300 di Jakarta Selatan, Kamis (2/7/2026). "Kita harus menjaga dan memastikan bahwa indoor pollutant juga enggak ada, karena sama bahayanya, misalnya vape dan asap rokok," lanjut dia.

Waspada polusi udara dan dampaknya pada pernapasan anak

Ancaman polusi dan pemicu batuk kronik berulang

Dokter yang sehari-hari berpraktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) ini menerangkan, paparan zat beracun dapat melumpuhkan mekanisme pertahanan alami di saluran pernapasan.

 Asap rokok maupun vape yang terhirup anak akan menghentikan pergerakan silia atau rambut-rambut halus pembersih kotoran di tenggorokan. 

Kondisi ini memicu penumpukan lendir yang masif di dalam tubuh. Oleh karena itu, paparan polusi sangat berisiko bagi anak-anak, terlebih pada mereka yang memiliki riwayat penyakit bawaan atau kelemahan otot pernapasan.

 "Makanya akhirnya jadi grok-grok, lendirnya banyak, karena tertumpuk di saluran napas (akibat silia yang tidak bergerak). Pasien-pasien dengan bakat alergi atau asma bisa mengalami eksaserbasi atau serangan," tutur dr. Wahyuni.

Mengenali kriteria batuk kronik berulang pada anak

Dalam kondisi lingkungan yang ideal, anak sehat dikategorikan wajar apabila mengalami infeksi saluran napas atas hingga enam kali dalam satu tahun.

 Namun, kewaspadaan ekstra diperlukan jika keluhan batuk anak memiliki pola spesifik yang tidak kunjung reda. 

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memiliki parameter khusus yang disebut sebagai Batuk Kronik Berulang (BKB). Parameter ini digunakan oleh tenaga medis untuk mencari tahu penyakit dasar yang berada di dalam sistem pernapasan anak.

"Berulang batuk itu minimal tiga kali episode dalam tiga bulan berturut-turut. Jadi kalau ada anak bulan ini sakit, bulan depannya batuk lagi, tiga bulan berturut-turut sakit terus, itu masuk kriteria BKB," papar dr. Wahyuni.

Selain episode yang berurutan, batuk persisten yang gagal sembuh selama lebih dari dua minggu juga tergolong ke dalam kriteria BKB. 

Pada banyak kasus, BKB dengan ciri khas gejala yang semakin memberat setiap malam hari umumnya bermuara pada diagnosis awal penyakit asma. 

"Tugas kami sebagai dokter adalah mengurai anak ini BKB-nya kenapa. Salah satunya yang paling perlu kita lihat adalah anaknya asma enggak ya, karena batuknya berulang terus," ungkap dr. Wahyuni.

Pentingnya asthma action plan di lingkungan rumah

Apabila hasil diagnosis menunjukkan anak mengidap asma, pengobatan mandiri tanpa pantauan tenaga kesehatan sangat tidak dianjurkan. Dokter akan membekali orangtua dengan asthma action plan yang terukur untuk diterapkan di rumah. 

Panduan tertulis ini bertujuan agar keluarga mampu mendeteksi gejala krisis pernapasan dengan tepat dan memberikan pertolongan pertama yang akurat. Kepemilikan mesin nebulizer bisa mendukung kelancaran asthma action plan harian tersebut.

 "Kita ajarkan bagaimana cara melakukan initial treatment di rumah. Misalnya, kita akan melakukan nebulisasi, berapa kali boleh, berapa jarak di antara nebulisasi pertama dan kedua," tutur dr. Wahyuni.

Sebagai langkah perlindungan tambahan dari gempuran polusi udara, pemakaian masker pelindung tetap diwajibkan ketika anak beraktivitas di luar rumah. 

Di samping itu, anak dengan riwayat alergi dan infeksi dianjurkan mendapat asupan nutrisi spesifik guna memperkuat daya tahan imunologis tubuh. 

"Banyak yang menghubungkan anak yang punya bakat alergi atau infeksi berulang dengan defisiensi vitamin D. Makanya harus dikasih suplementasi itu supaya respons imun dan alerginya lebih baik," pungkas dr. Wahyuni.

Terkini