JAKARTA - Layanan listrik bagi rumah tangga di Indonesia umumnya terbagi atas dua skema, yakni listrik prabayar (token listrik) serta listrik pascabayar. Kedua model layanan ini mempunyai perbedaan dari sisi metode pembayaran dan tata cara penggunaannya.
Diketahui, listrik prabayar merupakan skema pembayaran di mana pelanggan wajib membeli token atau pulsa listrik terlebih dahulu sebelum dipakai. Sementara itu, listrik pascabayar ialah sistem konvensional yang mengizinkan pelanggan memakai listrik selama satu bulan terlebih dahulu, kemudian membayar tagihan di akhir bulan berdasarkan jumlah pemakaian.
Walaupun keduanya digunakan untuk kebutuhan listrik rumah tangga, kedua sistem ini kerap diperbandingkan oleh khalayak. Salah satu asumsi yang sering muncul adalah listrik prabayar atau token listrik dinilai lebih boros jika dibandingkan dengan listrik pascabayar.
Lantas, apakah benar token listrik lebih boros dibandingkan meteran pascabayar?
Manajer Komunikasi, Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Jawa Timur, Dana Puspita Sari, menegaskan bahwa sistem pembayaran listrik tidak memengaruhi tingkat konsumsi listrik pelanggan.
“Terkait anggapan bahwa listrik prabayar atau token lebih boros dibandingkan listrik pascabayar, perlu kami sampaikan bahwa hal tersebut tidak benar,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (9/6/2026).
Dana menerangkan, baik pelanggan prabayar maupun pascabayar sama-sama memakai satuan pengukuran listrik berupa kilowatt hour (kWh). Selain itu, tarif listrik juga ditetapkan berdasarkan golongan tarif dan daya pelanggan, bukan dari sistem pembayarannya. Ketentuan tarif listrik PLN sendiri mengacu pada aturan Kementerian ESDM tentang Tarif Tenaga Listrik yang disediakan PLN.
“Perbedaan prabayar dan pascabayar hanya terletak pada waktu pembayaran,” jelas Dana.
Alasan token listrik cepat habis
Menurut Dana, apabila pelanggan merasa token listrik lebih cepat habis, hal tersebut umumnya dipengaruhi oleh pola pemakaian listrik di rumah, bukan karena sistem prabayar lebih boros.
“Karena itu, apabila pelanggan merasa token listrik lebih cepat habis, umumnya hal tersebut berkaitan dengan pola konsumsi listrik, bukan karena sistem prabayar lebih boros,” katanya.
Ia mencontohkan penggunaan perangkat elektronik berdaya besar seperti AC, pompa air, penanak nasi, dispenser, kulkas, setrika, mesin cuci, hingga perangkat yang menyala terus-menerus dapat membuat konsumsi listrik meningkat.
Menurut Dana, justru melalui listrik prabayar, pelanggan dinilai lebih mudah memantau penggunaan listrik harian karena sisa kWh dapat langsung terlihat pada meter.
“Kami mengimbau pelanggan untuk rutin mengecek pemakaian listrik, menggunakan peralatan elektronik secara bijak, dan memastikan instalasi listrik dalam kondisi baik,” ujarnya.
“Apabila pelanggan merasa pemakaian tidak wajar, silakan melapor melalui aplikasi PLN Mobile atau Contact Center PLN 123 agar dapat dilakukan pengecekan lebih lanjut,” tambahnya.
Cara mengetahui elektronik yang paling boros listrik
Sementara itu, pelanggan bisa mengetahui konsumsi listrik perangkat elektronik melalui kode tertentu pada meteran listrik prabayar, yakni kode 09. Kode tersebut berfungsi menampilkan informasi daya sesaat atau instantaneous power dalam satuan Watt secara real-time.
“Nilai yang muncul menunjukkan total daya listrik yang sedang digunakan pelanggan pada saat itu secara real-time,” kata Executive Vice President Komunikasi Korporat & TJSL PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto kepada Kompas.com, Jumat (8/5/2026).
Untuk mengetahui konsumsi daya masing-masing perangkat, pelanggan dapat melakukan pengecekan dengan langkah berikut: menyalakan satu perangkat, menekan kode "09" lalu "Enter" pada meteran, dan mencatat angka daya yang muncul.
Selain itu, Gregorius mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan kode meter listrik yang beredar di media sosial.