JAKARTA - Guratan keriput pada wajah Sania seolah merekam riwayat panjang mengenai kerja keras serta pengorbanan. Memasuki usia 72 tahun, wanita yang akrab dipanggil Nek Sania tersebut belum mempunyai kediaman pribadi. Dalam kesehariannya, janda ini menumpang tinggal di rumah buah hatinya yang berlokasi di Serdang Bedagai, Sumatera Utara.
Sudah bertahun-tahun menjalani kehidupan dengan sangat sederhana, Nek Sania menggantungkan hidup sebagai buruh cuci pakaian.
Mengandalkan upah harian yang terhitung minim, ia melewati hari demi hari tanpa pernah membayangkan bahwa suatu waktu dirinya bakal menapakkan kaki di Tanah Suci.
Walau begitu, ada sebait doa yang senantiasa ia rawat di dalam hati, yakni berkesempatan menjadi tamu Allah di Baitullah.
Arah menuju doa itu mulai terbuka pada tahun 2014. Bermodalkan sokongan dari anak-anaknya, Nek Sania mendaftarkan diri menjadi calon jemaah haji.
Semenjak momen itu, ia pun setia menanti. Bukan sekadar dalam kurun satu atau dua tahun, melainkan menanti hingga lebih dari satu dekade.
Penantian dalam waktu lama tersebut pada akhirnya membuahkan kabar gembira yang selama ini ia idamkan. Memasuki tahun 2026, panggilan untuk berangkat menunaikan ibadah haji akhirnya datang.
Bagi sebagian kalangan, informasi tersebut barangkali merupakan momen sukacita tanpa ganjalan. Akan tetapi bagi Nek Sania, panggilan ini justru memicu kebimbangan.
Kondisi ekonomi yang serba pas-pasan memaksa dirinya untuk memutar otak agar tetap dapat berangkat ke Tanah Suci.
Ia pun menempuh jalur yang tidak mudah. Guna mencukupi nominal ongkos yang dibutuhkan, Nek Sania meminjam dana ke beberapa pihak dengan total berkisar Rp10.000.000 yang rencananya bakal diangsur untuk proses pelunasannya.
Baginya, momentum berhaji yang telah dinantikan selama belasan tahun tersebut terlampau bernilai untuk dilewatkan begitu saja.
Boleh jadi banyak kalangan yang bertanya-tanya, apa sebabnya seseorang sampai rela meminjam uang demi menunaikan rukun Islam yang di dalam syariat sebetulnya cuma diwajibkan bagi mereka yang memiliki kemampuan.
Pertanyaan itu pun menjadi bahan perenungan bagi Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, sewaktu berkunjung ke kediaman Nek Sania selepas berakhirnya musim haji 2026.
Menurut pandangan Dahnil, secara hukum syariat, pendapat semacam itu memang tidak salah. Ibadah haji memang diwajibkan bagi mereka yang dibekali kemampuan, baik dari segi fisik maupun kapital.
Akan tetapi, di balik lembaran kisah yang dirasakan Nek Sania, tersimpan dimensi lain yang tidak selamanya bisa dicerna memakai nalar logika serta hitung-hitungan materi.
Dahnil mengungkapkan, bagi mayoritas warga Indonesia, ibadah haji bukan sekadar sebuah agenda perjalanan spiritual.
Haji merupakan puncak tertinggi dari impian keagamaan yang dipendam sepanjang hayat. Sebuah kerinduan mendalam yang tumbuh secara perlahan lewat rangkaian doa, dari sisa uang receh yang ditabung sedikit demi sedikit, bahkan dari wujud pengorbanan yang tidak jarang melampaui batas dari kemampuan mereka sendiri.
"Sering kali ada orang yang mampu naik haji. Tetapi ada juga yang berusaha dan memampukan diri untuk naik haji," tutur Dahnil, merujuk pada keterangan tertulisnya, Minggu (21/6/2026).
Ia berpendapat, rasa cinta mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya kerap kali memacu seseorang untuk menempuh beragam bentuk ikhtiar demi menjawab panggilan ke Tanah Suci.
Layaknya rasa cinta yang sukar dinalar dengan logika, kerinduan spiritual pun tidak melulu bisa dikonversikan melalui tolok ukur yang rasional.
Di mata Dahnil, figur Nek Sania bukanlah satu-satunya kasus. Masih banyak jemaah haji asal Indonesia yang menyimpan lembaran kisah serupa—yakni kalangan masyarakat kecil yang merelakan sebagian besar usia hidupnya untuk menyisihkan uang, bekerja memeras keringat, hingga rela berutang demi merealisasikan impian suci berhaji.
Oleh karena itu, Kementerian Haji dan Umrah kini mulai melakukan pendataan terhadap jemaah dengan latar belakang ekonomi seperti Nek Sania.
Upaya tersebut ditempuh selaku bentuk realisasi dari instruksi Presiden Prabowo Subianto supaya negara hadir dalam mengulurkan bantuan guna meringankan beban hidup mereka.
“Akhirnya, atas perintah Presiden Prabowo kami mendata jamaah-jamaah haji seperti Nek Sania ini, agar bebannya diringankan, agar hutangnya terbayarkan,” terangnya.
Dahnil menerangkan, Nek Sania menjadi salah satu nama jemaah haji yang memperoleh kucuran bantuan dari pihak Pemerintah sekaligus dari pihak Uni Emirat Arab.
Lewat donasi tersebut, utang yang ditanggung Nek Sania diharapkan bisa secepatnya dilunasi. Di samping itu, sisa dana bantuan yang ada juga diproyeksikan mampu menyokong pengeluaran sehari-hari.
“Nenek bayar hutangnya, kemudian digunakan untuk kebutuhan nenek nanti,” ucapnya.