JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) memberikan sorotan terhadap pentingnya metode stick and carrot (sanksi dan penghargaan), selaku langkah untuk menggeser kebiasaan masyarakat dalam tata kelola sampah.
Stick berperan sebagai wujud supremasi hukum lewat penerapan denda ataupun sanksi sosial, sementara carrot berfungsi selaku insentif maupun apresiasi demi memacu masyarakat agar bersemangat dalam memilah serta menyerahkan sampah.
“Karena open dumping sudah gak boleh. Jadi nanti seperti Bantar Gebang itu gak boleh lagi. Sehingga, sampah itu di tiap tempat harus selesai. Kalau open dumping masih seperti sekarang tentu akan kena penalti, ada undang-undang sekarang. Jadi, memang harus ada stick and carrot, harus kami paksa,” tutur Menko Zulhas.
Dalam sesi wawancara cegat seusai agenda Apel Siaga Jaga Jakarta Pilah Sampah di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu, Menko Zulhas memberikan peringatan bahwa tumpukan sampah memicu imbas yang amat besar, di antaranya dapat memperburuk kondisi lingkungan, memicu polusi udara, hingga partikel mikroplastiknya berisiko mengakibatkan penyakit kanker.
“Sampah itu dampaknya luar biasa, merusak lingkungan, menimbulkan polusi, belum kalau mikroplastik kan bisa menimbulkan kanker,” ucap Menko Zulhas.
Pada momentum ini, dirinya membeberkan bahwa sejumlah wilayah di Indonesia telah bersiap untuk mengoperasikan mesin insinerator sampah, yang ke depannya ditargetkan dapat diterapkan pula di area perkantoran serta lingkungan rumah tangga.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menuturkan bahwa Provinsi DKI Jakarta bakal memiliki infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS), yakni di kawasan Bantar Gebang, Tanjungan, dan Sunter.
Adapun, keberadaan proyek PLTS tersebut selaras dengan regulasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2022 mengenai Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik, serta Instruksi Gubernur (InGub) DKI Jakarta Nomor 5 tahun 2026.
“Maka, sampah di Jakarta yang 9.000 ton per hari, mudah-mudahan di tahun depan sudah akan tertangani dengan baik,” kata Pramono.
Apabila berjalan selaras dengan rencana, dirinya memasang target pada tahun 2029 proses pembersihan sampah bakal dikerjakan langsung dari Bantar Gebang, yang pada masa sekarang muatannya menyentuh 55 juta ton dengan ketinggian berkisar 60 meter.