Rupiah Sore Ini Melemah ke Rp17.995, Dekati Level Rp18.000

Rupiah Sore Ini Melemah ke Rp17.995, Dekati Level Rp18.000
Ditutup Melemah, Rupiah Nyaris Sentuh Rp18.000 per Dolar AS [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar mata uang rupiah mengakhiri sesi transaksi dengan mencatatkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi penutupan perdagangan pembuka pekan, Senin (6/7/2026). Sentimen ini terjadi sejalan dengan adanya rebound pada indeks dolar AS (DXY) serta sikap para pelaku pasar yang tengah mencermati publikasi data domestik terkait cadangan devisa (cadev).

Berdasarkan laporan analisis dari pihak Doo Financial Futures, kurs rupiah ditutup mengalami depresiasi sebesar 0,18% menuju posisi Rp17.995. Tren kemerosotan mata uang Garuda di hadapan dolar AS tersebut turut dialami oleh mayoritas mata uang di area regional Asia lainnya.

Koreksi terdalam terhadap dolar AS dipimpin oleh Yen Jepang yang mengalami pelemahan sebesar 0,56%, diikuti oleh baht Thailand yang merosot sebesar 0,39%, dolar Taiwan yang melemah sebesar 0,29%, serta rupee India yang terpantau ikut turun sebesar 0,23% di hadapan dolar AS. 

Selanjutnya, ringgit Malaysia terhadap dolar AS ikut terdepresiasi sebesar 0,17%, disusul oleh yuan China yang melemah sebesar 0,16%, won Korea yang terkoreksi sebesar 0,13%, serta dolar Singapura dan peso Filipina yang masing-masing terpangkas sebesar 0,11%. 

Di sisi lain, mata uang dolar Hong Kong justru mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,01% terhadap dolar AS.

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan penilaian bahwa nilai tukar rupiah kembali berada dalam kondisi tertekan dan nyaris menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) akibat perpaduan antara sentimen eksternal dan faktor domestik. 

Para pelaku pasar pada saat ini sedang fokus memperhatikan rilis data cadangan devisa (cadev) yang diproyeksikan bakal menjadi salah satu instrumen penentu bagi arah pergerakan mata uang rupiah dalam jangka pendek.

Selain dipicu oleh dinamika global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari sikap pasar yang masih menganalisis peringatan dari lembaga pemeringkat Fitch Ratings terkait potensi penurunan peringkat kredit Indonesia. 

Langkah ini dinilai memicu sikap kehati-hatian dari para pemodal terhadap instrumen aset-aset domestik.

Di pihak lain, kalangan investor lebih memilih untuk mengambil sikap wait and see menanti sejumlah rilis data ekonomi krusial yang dijadwalkan meluncur sepanjang pekan ini. 

Beberapa indikator utama yang masuk dalam radar perhatian antara lain adalah cadangan devisa, angka penjualan ritel, serta indeks kepercayaan konsumen.

"Investor mengantisipasi rilis data-data ekonomi penting domestik pada pekan ini," ujarnya, Senin (6/7/2026).

Barisan data tersebut dipercaya bakal menyodorkan gambaran konkret menyangkut ketahanan di sektor eksternal ataupun peta kondisi permintaan dari dalam negeri.

Secara kawasan regional, pelemahan mata uang rupiah terpantau selaras dengan pergerakan mata uang Asia lainnya yang sebagian besar mengalami depresiasi yang cukup signifikan sebagai dampak dari keperkasaan dolar AS.

Untuk sesi perdagangan besok, atensi utama dari para pelaku pasar akan terfokus pada rilis data cadangan devisa Indonesia. 

Hal ini dikarenakan tren penyusutan cadangan devisa pada periode sebelumnya sempat menjadi poin sorotan bagi Fitch Ratings sewaktu mengevaluasi profil kredit Indonesia.

Pada momen yang bersamaan, proyeksi pergerakan dolar AS juga bakal dipengaruhi oleh rilis data performa aktivitas sektor jasa di Amerika Serikat lewat indeks ISM Services PMI. 

Secara historis, indikator tersebut dalam beberapa kurun waktu terakhir kerap menorehkan capaian yang cukup solid, sehingga berpeluang untuk kembali memperkokoh penguatan dolar AS jika realisasinya berada di atas estimasi pasar.

Melalui kombinasi dari rentetan sentimen tersebut, fluktuasi rupiah pada sesi perdagangan besok diproyeksikan masih akan dibayangi oleh tekanan dengan estimasi rentang pergerakan di kisaran Rp17.950 sampai Rp18.050 per dolar AS.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index