ESDM Buka Peluang Investasi PLTB, Kombinasi dengan PLTA saat Musim Kemarau

Rabu, 16 September 2026 | 19:28:00 WIB

WARTAKATA.COM — Kementerian ESDM menawarkan skema kombinasi pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dengan PLTA untuk menarik investor, menyusul belum adanya realisasi investasi PLTB dalam empat tahun terakhir. Potensi angin yang berembus 24 jam selama Juni hingga Oktober disebut bisa menutup penurunan pasokan air saat kemarau.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyatakan pihaknya tengah membuka peluang investasi PLTB kepada sejumlah calon investor. Pernyataan itu disampaikan usai Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu.

Eniya mencatat tidak ada investasi PLTB yang masuk ke Indonesia selama sekitar empat tahun terakhir. Padahal, menurut dia, angin bisa dipanen justru ketika aliran air di sungai menyusut.

Pola Angin Musiman Jadi Dasar Kombinasi PLTB-PLTA

Eniya menjelaskan, angin di Indonesia dapat berembus sepanjang hari selama musim kemarau. Kondisi itu berlangsung sekitar empat bulan, yakni Juni, Juli, Agustus, September, hingga pertengahan Oktober.

“Apalagi dipicu panas yang berkepanjangan, justru anginnya tambah tinggi,” kata Eniya.

Mengacu pola tersebut, ia menilai PLTB cocok dipasangkan dengan PLTA. Saat musim panas, debit air sungai yang memasok PLTA cenderung turun sehingga pembangkit angin bisa mengambil alih sebagian beban pasokan.

Lokasi Potensi Angin yang Sudah Dipetakan

Kementerian ESDM sudah memetakan sejumlah wilayah dengan potensi PLTB. Daerah itu meliputi Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, serta sejumlah wilayah Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

Eniya juga menyebut telah menerima tawaran pinjaman berbunga sangat rendah dari JETP. Ia mengarahkan dana tersebut untuk pembangkit angin atau PLTS terapung agar percepatan pembangunan bisa segera dilakukan dan penjualan karbon dapat dimulai lebih cepat.

Tekanan Pasokan Listrik di Sulawesi Selatan

Di sisi lain, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkap sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) tengah menghadapi tekanan. Penurunan daya mampu sejumlah pembangkit hidro menjadi penyebabnya.

Fenomena El Nino mempengaruhi kondisi hidrologi sehingga produksi PLTA Poso, Bakaru, Malea, dan sejumlah PLTM menurun. Darmawan merinci daya mampu agregat pembangkit hidro turun dari sekitar 850 MW menjadi 250 MW, atau berkurang sekitar 600 MW.

Pasokan listrik kian tertekan karena perbaikan PLTU Jeneponto berkapasitas 2 x 100 megawatt milik swasta yang mengalami gangguan teknis. Perbaikan itu membuat pasokan dari pembangkit tersebut belum kembali normal.

Langkah PLN Menjaga Pasokan Sulbagsel

PLN menjalankan sejumlah langkah simultan untuk menambah pasokan. Perbaikan pembangkit dipercepat, pembangkit yang tersedia dioptimalkan, dan tambahan kapasitas hingga 627 MW disiapkan.

PLN juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Upaya itu bertujuan meningkatkan ketersediaan air bagi pembangkit hidro.

Namun, kondisi atmosfer yang sangat kering membuat ketersediaan awan yang bisa disemai masih terbatas. TMC belum sepenuhnya mampu menutup defisit air yang dibutuhkan pembangkit.

Untuk jangka panjang, PLN menyiapkan penguatan sistem Sulbagsel agar lebih beragam, fleksibel, dan resilien terhadap dinamika pasokan. Mengacu arahan Presiden lewat program PLTS 100 gigawatt, PLN akan memperkuat sistem tersebut dengan sekitar 5,2 GWp PLTS dan 8,2 gigawatt hour Battery Energy Storage System (BESS).

Terkini