PLN dan Pelindo Resmikan OPS 1 MVA di Tanjung Priok, Awal dari 24 Unit

Jumat, 18 September 2026 | 14:21:00 WIB

WARTAKATA.COM — PT PLN (Persero) bersama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) meresmikan dua unit Onshore Power Supply (OPS) berkapasitas total 1 megavolt ampere (MVA) di Dermaga Serbaguna Nusantara, Pelabuhan Tanjung Priok. Fasilitas ini menjadi unit pertama dari rencana pembangunan 24 unit OPS di kawasan pelabuhan terbesar di Indonesia tersebut. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya mendorong Green Port dan menekan emisi sektor maritim.

Dua unit OPS yang diresmikan dibangun dan dioperasikan oleh PT Energi Pelabuhan Indonesia (EPI), perusahaan patungan antara PT PLN Electricity Services dan PT Pelindo Jasa Maritim. Masing-masing unit memiliki kapasitas 500 kilovolt ampere (kVA).

Dengan fasilitas ini, kapal yang sedang bersandar bisa mematikan mesin diesel dan beralih menggunakan pasokan listrik dari darat. Langkah tersebut dinilai lebih efisien sekaligus lebih bersih dibandingkan membakar bahan bakar selama proses sandar.

Mengapa OPS Penting bagi Sektor Maritim

Sektor maritim menyumbang emisi gas rumah kaca global yang tidak kecil. Sebagian besar emisi kapal di pelabuhan justru berasal dari mesin diesel yang tetap menyala selama kapal bersandar.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan penyediaan listrik untuk fasilitas OPS sejalan dengan asta cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya mendorong dekarbonisasi industri sebagai bagian dari transformasi pembangunan berkelanjutan di sektor maritim.

"Kehadiran fasilitas OPS di Tanjung Priok menjadi solusi untuk mengurangi emisi dari kapal selama bersandar di pelabuhan. Melalui OPS, kebutuhan listrik kapal dapat dipenuhi dari sumber listrik di darat, sehingga penggunaan mesin diesel dapat ditekan," kata Darmawan dalam keterangannya, Jumat (18/9/2026).

Sinergi BUMN dan Dampak ke Pelaku Usaha

Darmawan menambahkan, penyediaan listrik untuk OPS menunjukkan kesiapan infrastruktur kelistrikan PLN dalam mendukung kebutuhan energi di kawasan pelabuhan. Elektrifikasi sektor maritim membutuhkan pasokan listrik andal untuk menunjang operasional kapal selama berada di pelabuhan.

"Ini adalah bentuk sinergi BUMN dalam mendukung transformasi sektor kepelabuhan melalui pemanfaatan energi domestik, sekaligus mendorong produktivitas melalui penghematan para pelaku usaha di bidang maritim dan mengoptimalkan aktivitas pelabuhan," tambahnya.

Bagi pelaku usaha maritim, peralihan ke listrik darat berpotensi memangkas biaya bahan bakar selama kapal bersandar. Penghematan itu bisa dialihkan ke kebutuhan operasional lain dan pada akhirnya memperbaiki margin usaha.

Rencana 24 Unit OPS di Tanjung Priok

Dua unit yang baru diresmikan baru permulaan. PLN dan Pelindo menargetkan pembangunan total 24 unit OPS di Tanjung Priok sebagai bagian dari pengembangan Green Port di kawasan tersebut.

Jika seluruh unit beroperasi, kapasitas listrik darat yang tersedia akan jauh lebih besar dan mampu melayani lebih banyak kapal secara bersamaan. Skema ini juga memperkuat posisi Tanjung Priok sebagai pelabuhan yang menerapkan standar lingkungan lebih ketat.

Keberhasilan program di Tanjung Priok berpeluang menjadi acuan bagi pelabuhan lain di Indonesia. Pemerintah sendiri tengah mendorong kemandirian energi dan pengurangan emisi di berbagai sektor, termasuk transportasi laut.

Peresmian OPS ini menandai langkah konkret sinergi PLN dan Pelindo dalam mengubah cara kapal memperoleh listrik di pelabuhan. Bila target 24 unit tercapai, Tanjung Priok bisa menjadi contoh bagaimana infrastruktur kelistrikan menopang dekarbonisasi sektor maritim nasional.

Terkini