JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak bervariasi pada perdagangan Senin (14/9/2026), dengan kans mencatatkan rebound usai mengalami pelemahan pada penutupan pekan lalu.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menyampaikan, dari kacamata teknikal IHSG sejatinya masih mengantongi pola bullish kendati sempat terdesak koreksi yang tergolong wajar serta telah menguji indikator MA20 dan wave (iv).
“Secara teknikal, meskipun mengalami koreksi wajar dan sudah menguji MA20 maupun wave (iv), pergerakan IHSG sebenarnya masih membentuk struktur bullish,” tulis Nafan dalam risetnya dipublikasi Senin pagi ini.
Ia menerangkan, indikator MA20 beserta MA60 masih mengindikasikan sinyal bullish crossover. Walau demikian, terdapat deretan indikator lainnya yang memperlihatkan sinyal kewaspadaan.
Stochastics K_D serta Relative Strength Index (RSI) mengindikasikan pergerakan negatif, seirama dengan tingkat volume perdagangan yang turut menyusut.
Untuk transaksi pada Senin, Nafan menakar IHSG berpotensi bergerak dinamis serta membuka celah terjadinya pembentukan arah rebound. Merujuk analisis teknikal, IHSG mengantongi area support di kisaran 6.472 dan 6.415, sedangkan batas resistance berada pada rentang 6.610 serta 6.658.
Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, Nafan menganjurkan pemodal untuk melakukan akumulasi pada emiten-emiten terpilih yang ditopang fundamental kokoh.
Para investor juga diimbau menitikberatkan perhatian pada saham bervaluasi rendah serta emiten yang mulai memperlihatkan indikasi pembalikan arah tren.
“Gunakan manajemen risiko dengan disiplin,” paparnya.
Dilihat dari dinamika global, iklim pasar masih membentur barisan tekanan negatif atau headwinds, mulai dari pergolakan pasar obligasi, akselerasi laju inflasi, hingga meningkatnya riak geopolitik yang menebalkan ketidakpastian ekonomi. Sentimen tersebut turut terpengaruh oleh rilis data inflasi AS atau US Consumer Price Index (CPI) periode Agustus.
Headline CPI AS tercatat bertumbuh 0,4 persen secara bulanan (month-to-month/MoM), sementara core CPI terkerek 0,3 persen. Capaian core CPI ini melampaui estimasi konsensus pasar.
Dinamika tersebut mengerek probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis points (bps) hingga menyentuh 86,5 persen, melompat dari posisi awal sebesar 69 persen.
Ekspektasi akan kebijakan moneter The Fed yang kian hawkish memicu gelombang aksi jual di pasar surat utang AS atau US Treasury. Pelepasan aset ini mendongkrak tingkat imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun naik menembus 4,975 persen, sedangkan yield tenor 2 tahun mencapai 4,644 persen.
Di lain sisi, komoditas minyak mentah dunia berbalik melandai sesudah sebelumnya sempat melambung mendekati angka 110 dollar AS per barel. Minyak Brent melorot 2,94 persen menuju level 104,47 dollar AS per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) menyusut 2,43 persen ke angka 99,99 dollar AS per barel.
Penurunan harga minyak tersebut terdorong oleh pemberitaan media, termasuk Financial Times, perihal rencana pertemuan tingkat diplomat di Oman demi membahas pemulihan alur pelayaran komersial di wilayah Selat Hormuz. Meski begitu, ancaman pada rute ekspor minyak milik Arab Saudi masih terus dicermati pasar.
Jalur pipa East-West Pipeline dikabarkan berhenti beroperasi menyusul serangan drone, disusul laporan munculnya ledakan di Yanbu yang menjadi salah satu titik hub energi vital di pesisir Laut Merah. Menurut Nafan, rentetan insiden ini berpotensi menjadi dorongan bullish bagi harga minyak global.
Dari ranah domestik, sejumlah indikator makroekonomi berperan menjadi pondasi atau cushion bagi laju pergerakan IHSG. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang konsisten terjaga serta terjaminnya stabilitas pasokan energi nasional dinilai sanggup memberi dukungan bagi bursa saham tanah air.
Di samping itu, pergerakan nilai tukar rupiah dibukukan terdistribusi naik 0,21 persen di angka Rp 17.641,5 per dollar AS. Kenaikan rupiah ini diharapkan sanggup melapangkan jalan masuknya aliran dana asing (foreign inflow) dan memicu investor lokal agar tidak terlalu pasif dalam menyikapi volatilitas pasar.
Merujuk data transaksi, IHSG masih membukukan net foreign sell senilai Rp 732,81 miliar pada aktivitas harian. Secara year to date (YTD), net foreign sell mencapai akumulasi Rp 97,69 triliun.
Secara akumulatif, IHSG masih mengantongi koreksi sebesar 24,35 persen sepanjang tahun berjalan.