Ledakan Tambang Benxihu 1942 Tewaskan 1.549 Buruh, Korban Terbanyak dalam Sejarah

Ledakan Tambang Benxihu 1942 Tewaskan 1.549 Buruh, Korban Terbanyak dalam Sejarah
Ledakan Tambang Benxihu 1942 Tewaskan 1.549 Buruh, Korban Terbanyak dalam Sejarah

WARTAKATA.COM — Sebanyak 1.549 buruh tambang tewas dalam ledakan tambang batu bara Benxihu di China pada 26 April 1942. Dari jumlah itu, 1.518 orang merupakan warga China yang dipaksa bekerja di bawah pengelolaan Jepang. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu kecelakaan tambang dengan korban jiwa terbanyak dalam sejarah dunia.

Lebih dari 2.000 buruh masuk ke dalam sumur sebelum fajar untuk menjalani shift kerja 12 jam. Sekitar pukul 11.30, gardu listrik permukaan mengalami gangguan dan memutus seluruh aliran listrik tambang.

Rangkaian Gangguan Listrik yang Berujung Petaka

Listrik baru bisa dipulihkan sekitar pukul 14.00. Pengelola menyalurkan daya ke kipas ventilasi mulut sumur terlebih dahulu, lalu mengalirkannya ke area penambangan bawah tanah 10 menit kemudian.

Ledakan dahsyat langsung terjadi begitu aliran listrik masuk ke lorong tambang. Lima sumur miring menyemburkan asap pekat, sementara gelombang ledakan mengempaskan para pekerja di dalamnya.

Setelah ledakan, pihak pengelola Jepang menutup ventilasi ke bawah tanah. Alasannya mencegah kebakaran dan melindungi peralatan serta cadangan batu bara di dalam tambang.

Gas Beracun Tewaskan Lebih Banyak Korban daripada Ledakan

Penutupan ventilasi membuat lorong tambang dipenuhi karbon monoksida. Sebagian besar pekerja tewas akibat keracunan gas beracun itu saat berusaha melarikan diri ke luar sumur, bukan karena dampak langsung ledakan.

Tim penyelamat Jepang yang turun ke lokasi memprioritaskan evakuasi pejabat dan petugas Jepang. Para buruh China yang merintih kesakitan di sepanjang lorong diabaikan.

Korban jiwa mencakup warga sipil dan tawanan perang yang dipaksa Jepang menjadi pekerja khusus. Totalnya mencapai 1.549 orang, dengan 1.518 di antaranya warga China.

Angka Korban Sempat Ditutupi Pengelola

Pihak pengelola Jepang berupaya menutupi jumlah korban sebenarnya. Pada monumen kuburan massal Rouqiufen atau Wanrenfen, angka yang dicantumkan hanya 1.327 korban tewas.

Investigasi resmi yang dilakukan sebulan setelah peristiwa membuktikan pihak Jepang melakukan kesalahan dan kebohongan terkait ledakan. Sanksi yang dijatuhkan hanya pemotongan sepersepuluh gaji tahunan bagi pejabat departemen batu bara perusahaan.

Kebenaran angka korban baru terungkap bertahun-tahun kemudian melalui kesaksian teknisi China yang terlibat dalam investigasi tersebut.

Jejak Peringatan yang Masih Berdiri

Area bencana kini mencakup dua peninggalan utama, yakni Central Inclined Shaft dan Kuburan Massal Rouqiufen. Pemerintah China menetapkan seluruh kompleks itu sebagai Unit Perlindungan Benda Cagar Budaya Penting Nasional.

Kawasan tersebut dikembangkan menjadi taman peringatan dan museum sejarah industri. Keberadaannya menjadi pengingat permanen atas tragedi yang menimpa ribuan buruh tambang Benxihu.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index