Shaun the Sheep The Beast of Mossy Bottom Angkat Horor Universal Klasik

Shaun the Sheep The Beast of Mossy Bottom Angkat Horor Universal Klasik

WARTAKATA.COM — Aardman Animations merilis film panjang ketiga Shaun the Sheep berjudul "Shaun the Sheep: The Beast of Mossy Bottom" yang kini tayang di bioskop. Film ini terinspirasi dari monster Universal klasik dan film horor Hammer Productions, dengan sutradara Steve Cox dan Matthew Walker mengungkap proses kreatif di baliknya.

Film ketiga Shaun the Sheep akhirnya tayang di bioskop. Kali ini, Shaun dan kawan-kawan bersiap menyambut Halloween, tetapi kebun labu mereka bermasalah.

Saat Shaun mencoba memperbaikinya, sebuah formula pertumbuhan yang ia ciptakan malah mengubah sang petani menjadi monster berbulu yang menakutkan.

Dari Valentine ke Halloween

Ide awal film ini sebenarnya bukan cerita horor. Matthew Walker mengungkap bahwa konsep awalnya adalah spesial Valentine's Day.

"Itu selalu ide tentang petani yang memiliki hubungan dengan seseorang, tapi kemudian pada suatu titik, ide tentang monster muncul," kata Walker kepada Variety.

Kedua ide tersebut akhirnya digabungkan. Perkembangan alaminya kemudian mengarah pada spesial Halloween.

Terinspirasi Monster Universal dan Hammer Horror

Film ini jelas mengambil inspirasi dari "Wolfman" dan "Frankenstein". Steve Cox menyebut bahwa bahasa visualnya diambil dari film-film yang ia dan Walker tonton semasa kecil di era 80-an.

Cox juga menyebut "Ghostbusters", "Indiana Jones", dan "The Goonies" sebagai referensi. Namun, ceritanya tetap berakar pada dunia monster Universal dan horor Hammer.

Aardman sendiri bukan pendatang baru dalam film monster. Sebelumnya, studio stop-motion ini memproduksi "Wallace & Gromit: The Curse of the Were-Rabbit".

Desain Monster yang Khas

Cox menjelaskan bahwa monster dalam film ini harus memiliki siluet yang sangat khas. Karena berasal dari petani, wujudnya dibentuk dari rambut yang tumbuh dari samping, janggut, dan gumpalan lebat di atas kepala.

"Kami menyukai fakta bahwa dia memiliki tanduk yang hampir terlihat saat dia melintasi bukit," ujar Cox.

Rambut pirang kemerahan sang petani memungkinkan integrasi visual dengan dunia oranye labu dan matahari terbenam merah darah. Hal ini membuat tim bisa meningkatkan tingkat saturasi warna dalam film.

Tantangan Bikin Horor Ramah Keluarga

Mengadaptasi lelucon horor menjadi tantangan tersendiri mengingat franchise ini ramah keluarga. Cox mengaku harus membawa elemen-elemen tersebut dengan pendekatan sendiri agar tidak mengasingkan penonton.

Beberapa elemen khas genre horor tetap dimasukkan, seperti hutan seram, bayangan, dahan berderit, dan dermaga berkabut. Semua itu bisa menciptakan jump scare, tapi dengan nuansa yang bersahabat.

Salah satu adegan menampilkan kawanan domba dikejar di dalam rumah. Mereka bersembunyi di kamar mandi, yang mengarah pada lelucon bergaya "Psycho".

Teknologi Stop-Motion yang Terus Berkembang

Aardman masih setia dengan teknologi stop-motion untuk menceritakan kisah karakter-karakternya. Walker menyebut banyak aspek pipeline studio tetap sama, tapi beberapa teknologi telah berkembang.

"Kami sekarang menggunakan kamera still digital daripada film," kata Walker.

Meski penggunaan efek digital dalam film meningkat, Walker menegaskan bahwa timnya selalu berusaha melakukan sebanyak mungkin secara in-camera.

Cerita Tanpa Dialog yang Menantang

Kemampuan Aardman bercerita tanpa dialog tetap menjadi tantangan, terutama untuk cerita emosional. Subplot film ini adalah kisah cinta antara petani dan dokter hewan, tetapi ramuan pertumbuhan memperumit ketertarikan sang petani.

Domba-domba memiliki kepala yang solid, sehingga ekspresi wajah mereka terbatas. Walker menjelaskan bahwa ekspresi harus disampaikan melalui bahasa tubuh, alis, gerakan mata, dan mulut.

Petani lebih sulit lagi karena tidak memiliki bola mata. "Dia hanya kacamata dan mulut. Tapi kami punya animator yang brilian," ujar Walker.

Film ini menambah deretan panjang karya Aardman yang konsisten dengan gaya stop-motion khas mereka. "Shaun the Sheep: The Beast of Mossy Bottom" kini tayang di bioskop.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index