Peneliti: Dolphin Bubbles Harassment of Fish Is Kleptoparasitism, Not Cruelty

Jumat, 18 September 2026 | 11:25:00 WIB

WARTAKATA.COM — Perilaku seekor dolphin jantan bernama Bubbles yang menggertak ikan hingga muntah lalu memakan sisa muntahannya bukanlah tanda kekejaman, melainkan strategi bertahan hidup yang disebut kleptoparasitisme. Temuan ini diungkap dalam studi terbaru yang menganalisis kebiasaan unik dolphin di perairan Australia, menantang anggapan umum bahwa dolphin adalah "sahabat manusia" yang selalu berperilaku baik.

Staf di Lady Elliott Island Eco Resort, kawasan resor di lepas pantai selatan Great Barrier Reef, Australia, sudah tidak asing lagi dengan tingkah laku seekor dolphin hidung botol jantan yang mereka juluki Bubbles. Satwa itu telah terlihat sejak setidaknya 2017 dan kerap mengganggu kawanan ikan bigeye trevally di sekitar perairan tersebut.

Bubbles mengejar satu ikan secara terus-menerus hingga ikan itu stres dan memuntahkan makanan yang sudah ditelannya. Setelah itu, Bubbles menyantap sisa muntahan tersebut. Perilaku tidak biasa ini menjadi fokus sebuah makalah baru yang diterbitkan di jurnal Ecology and Evolution.

Kleptoparasitisme, Strategi Bertahan Hidup yang Lazim di Alam

Istilah teknis untuk perilaku Bubbles adalah kleptoparasitisme, yaitu strategi ketika satu spesies mengambil makanan dari spesies lain, sering kali melalui konfrontasi agresif. Perilaku ini umum ditemukan di berbagai jenis hewan, mulai dari lebah, tawon, beruang, coyote, serigala, hingga elang botak.

Burung raptor, camar, dan dara laut diketahui menyerang burung lain untuk merebut makanannya. Skuas dan frigatebird mencuri dari burung laut lain, sementara hyena dan jakal kerap mengambil makanan dari pemangsa lain. Pola ini menunjukkan bahwa kleptoparasitisme bukan penyimpangan, melainkan taktik yang tersebar luas di kerajaan hewan.

Menantang Citra Dolphin sebagai "Sahabat Manusia"

Ko-penulis studi, Asia Haines dari University of the Sunshine Coast, menegaskan bahwa anggapan dolphin sebagai "sahabat manusia" lebih banyak dipengaruhi antropomorfisme, kecenderungan manusia memberikan sifat manusiawi kepada hewan. Menurutnya, kesan itu muncul karena dolphin tampak selalu tersenyum.

"Persepsi bahwa dolphin adalah 'orang baik di laut' lebih berkaitan dengan antropomorfisme, kecenderungan kita memberikan karakter manusia kepada mereka, dan mungkin karena dolphin terlihat tersenyum," kata Haines.

Haines menambahkan bahwa dolphin adalah predator yang secara aktif berburu mangsanya, terlepas dari apakah makanan itu dirampas dari spesies lain atau tidak.

"Dolphin adalah predator dan secara aktif berburu mangsanya, apakah itu dicuri dari spesies lain atau tidak," ujarnya.

Dampak bagi Pemahaman Perilaku Satwa Laut

Temuan ini memperkaya pemahaman tentang kompleksitas perilaku dolphin di alam liar. Selama ini, dolphin sering digambarkan sebagai hewan ramah dan cerdas, citra yang terbentuk dari budaya populer dan pertunjukan akuarium.

Studi terhadap Bubbles menunjukkan bahwa satwa laut ini memiliki repertoar perilaku yang jauh lebih luas, termasuk taktik oportunistik untuk mendapatkan makanan. Pengamatan jangka panjang di Lady Elliott Island menjadi kunci untuk mengungkap kebiasaan yang sulit terdeteksi dalam riset jangka pendek.

Bagi peneliti di Indonesia yang mengkaji dolphin dan mamalia laut di perairan Nusantara, temuan ini bisa menjadi pembanding. Perairan Indonesia memiliki beberapa spesies dolphin, termasuk dolphin hidung botol yang hidup di kawasan seperti Komodo, Bali, dan Raja Ampat. Pola kleptoparasitisme pada dolphin di Australia membuka peluang riset serupa untuk melihat apakah perilaku ini juga terjadi di habitat tropis.

Terkini