Matematikawan Takut AI, Tapi Tetap Pakai: "Sulit Berhenti karena Terlalu Berguna"

Matematikawan Takut AI, Tapi Tetap Pakai:
Matematikawan Takut AI, Tapi Tetap Pakai: "Sulit Berhenti karena Terlalu Berguna"

WARTAKATA.COM — Tristan Buckmaster menuduh OpenAI memakai karyanya untuk menyalip dia memecahkan masalah matematika legendaris berhadiah 1 juta dolar AS. Meski begitu, profesor New York University itu tetap memakai model perusahaan tersebut untuk merapikan makalah risetnya. Sejumlah matematikawan lain mengaku senasib: khawatir, tapi tidak bisa lepas.

Buckmaster mengungkapkan kekesalannya kepada WIRED. Menurut dia, perusahaan teknologi besar kini memegang kendali yang sulit dihindari para peneliti.

"Bahkan jika Anda tidak setuju dengan semua ini, Anda semacam terjebak. Dengan AI yang begitu berguna, sulit mencegah diri sendiri untuk tidak memakainya," kata Buckmaster. "Perusahaan-perusahaan ini punya monopoli, dan tidak banyak pilihan," tambahnya.

Dua Bulan Memakai Codex, Lalu Tuduhan Menyebar

Selama sepekan setengah sejak tuduhannya mencuat, Buckmaster justru memakai agen coding Codex milik OpenAI untuk membenahi makalah risetnya. Saat punya waktu mengerjakan matematika, alat itu membantunya memahami langkah logis yang mungkin diambil agen OpenAI dari pekerjaan lamanya menuju pembuktian akhir.

Buckmaster sebelumnya memakai Codex dan Claude milik Anthropic untuk menggarap masalah eksistensi dan kehalusan Navier-Stokes, bersama peneliti Anthropic Levent Alpöge. OpenAI mengerahkan puluhan ribu agen untuk mencapai solusi, tetapi baru setelah mengetahui persamaan itu hampir terpecahkan, kata Buckmaster.

Ketika klaimnya dipublikasikan, polemik soal AI dan masa depan matematikawan manusia pun meledak. OpenAI melakukan investigasi dan me

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index