Lulusan Ilmu Komputer Hadapi Pasar Kerja Suram Akibat AI

Lulusan Ilmu Komputer Hadapi Pasar Kerja Suram Akibat AI

WARTAKATA.COM — Prospek kerja lulusan ilmu komputer di Amerika Serikat memburuk tajam sejak ledakan AI generatif. Riset terbaru Biro Sensus AS menunjukkan penurunan peluang kerja dan pendapatan awal yang setara dengan dampak resesi besar. Sebagian lulusan terpaksa banting setir ke sektor berupah rendah seperti ritel dan restoran.

Sebuah kertas kerja baru dari tiga ekonom Biro Sensus Amerika Serikat mengungkap bahwa lulusan perguruan tinggi dari jurusan dengan paparan AI tertinggi mengalami kemunduran prospek karier sejak ChatGPT dirilis pada akhir 2022. Temuan ini menempatkan kelompok tersebut dalam posisi yang mirip dengan generasi Milenial tua yang lulus saat Resesi Besar 2008.

Penelitian tersebut memetakan sepuluh persen jurusan paling terpapar AI, mencakup ilmu komputer, matematika, statistika, sejumlah disiplin teknik, jaringan, hingga jurnalistik. Kelompok ini mencatat penurunan tajam pada dua indikator utama: peluang kerja pertama dan pendapatan awal.

Penurunan Lapangan Kerja Capai Lima Poin Persentase

Ekonom Biro Sensus mencatat bahwa jurusan dengan paparan AI tertinggi mengalami penurunan kemungkinan memperoleh pekerjaan awal sebesar lima poin persentase. Pendapatan awal sepanjang kuartal penuh juga turun 13 persen.

"Penurunan pendapatan ini sebanding besarnya dengan kerugian pendapatan yang terkait dengan lulus saat resesi besar," tulis ketiga ekonom tersebut dalam kertas kerja itu.

Setengah dari penurunan pendapatan itu disebabkan pergeseran lulusan ke industri berupah lebih rendah. Restoran dan ritel menjadi tujuan banyak dari mereka yang kesulitan mendapat pekerjaan sesuai bidang studi.

Bidang Kesehatan dan Pendidikan Relatif Aman

Dampak ini tidak merata. Lulusan dari jurusan dengan paparan AI rendah, seperti keperawatan dan sebagian besar bidang pendidikan, tidak mengalami kemunduran serupa pada tahap awal karier mereka.

Para peneliti juga memeriksa sejumlah penjelasan alternatif. Mereka menilai lonjakan jumlah lulusan pada jurusan populer bukan penyebab utama, meski pertumbuhan lulusan di bidang paling terpapar AI memang melambat setelah kemunculan ChatGPT.

Data survei departemen STEM bahkan menunjukkan pendaftaran mahasiswa di beberapa program jurusan paling terpapar mulai menurun. Namun jumlah lulusan yang berhasil mendapat kerja di bidangnya justru turun lebih cepat.

Wirausaha dan Kuliah Lanjut Jadi Pelarian

Perubahan pada jalur wirausaha dan melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana turut menyumbang penurunan lapangan kerja. Kedua faktor itu diperkirakan menjelaskan hingga setengah dari penurunan lima poin persentase tersebut.

Tim peneliti menyatakan bahwa perusahaan mungkin memilih merekrut lebih sedikit lulusan baru karena alasan yang berkaitan dengan keberadaan AI, tanpa harus menggunakan teknologi itu sendiri. Ketidakpastian bisnis dan kesulitan menilai kandidat juga bisa memperburuk prospek lulusan baru.

"Kita seharusnya khawatir dengan besarnya hasil ini," kata para peneliti, seraya menambahkan bahwa mereka enggan memperpanjang tren jangka pendek ini menjadi ramalan kiamat jangka panjang bagi pasar tenaga kerja.

Mereka merujuk pada bukti historis bahwa banyak pekerjaan hari ini tidak ada beberapa dekade lalu. Prediksi soal pekerjaan masa depan dan keterampilan yang dibutuhkan pun dinilai sulit dilakukan.

"Kita harus sangat berhati-hati berspekulasi tentang bagaimana AI akan memengaruhi ekonomi secara keseluruhan berdasarkan efek jangka pendek pada sebagian pekerja saja," ujar para penulis.

Meski begitu, bukti yang ada sejauh ini memberi jawaban siap bagi lulusan ilmu komputer yang masih ditanya orang tua soal mengapa mereka belum juga mendapat pekerjaan tetap. Jawabannya: AI.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index